Motherhood Personal

Cerita Tentang ASI Dan Masalah Berat Badan Anak

Sudah mau setahun nih aku jadi ibu. Tapi belom sempet nulis tentang ASI berdasarkan pengalamanku sendiri. Emang selama setahun ini waktu luang yang kupunya terbilang gak banyak. Kali ini kuusahakan untuk dicatat di blog, supaya beberapa tahun ke depan bisa kubaca-baca lagi.

Note: semoga aku masih inget ya semua cerita tentang pengalaman memberi ASI ini 😁

ASI LANGSUNG MUNCUL SETELAH MELAHIRKAN?

Oh tentu tidak. Yang kuingat beberapa jam setelah melahirkan aku pergi ke kamar mandi untuk mengganti pembalut nifas. Masih segar banget di ingatanku pada waktu itu ketika pertama kalinya menyadari dan melihat post partum body yang yaaa melar sana sini.

Satu hal yang kuiingat banget juga adalah payudara mulai bengkak dan terasa nyeri. Aku lupa persisnya, apakah itu karena natural setelah melahirkan atau memang efek obat perangsang munculnya ASI yang diberikan dokter kandungan.

Alhamdulillah baik dokter kandungan yang membantu persalinanku beserta bidan di rumah sakit yang kupilih memang the best. Semuanya memperhatikan kebutuhan ibu baru yang habis melahirkan.

Aku ingat banget euphoria saat baru lahiran. Kerjaannya nanya melulu kapan aku bisa kasih susu anak? Soalnya anakku tidur terus sepanjang hari sejak lahir. Kebetulan waktu itu lahirnya di siang hari.

Jawaban dari bidan adalah, “Ibu sekarang istirahat dulu, biasanya nanti malam anak akan mulai minta susu”. Cuma namanya kesenangan punya anak ya, bahkan sampe besokannya aku masih belom bisa tidur. Padahal saran dari bidan itu betul banget. Istirahat itu penting karena setelah itu pekerjaan jadi ibu bakal melelahkan dan tentunya tidak akan berhenti.

Aku sendiri akhirnya baru mulai intensif belajar menyusui di hari kedua. Bidan beberapa kali mengajarkan bagaimana posisi yang benar untuk menyusui. Sempat juga dibantu dengan alat seperti penyedot supaya puting lebih keluar sehingga mempermudah bayi menghisap.

Satu pesan yang kuingat dari bidan adalah, kalau bayi nyusunya masih mengeluarkan suara artinya itu masih salah caranya. Kalau salah nanti air susu tidak terangsang keluar dan malah nanti putingnya sakit.

Di sinilah aku agak menyesal gak pernah baca teori soal menyusui. Karena bener-bener buta banget. Trus kan posisinya aku dan bayi yang baru lahir ini juga sama-sama harus belajar supaya aku bisa kasih ASI dan bayi bisa menyusu.

Alhamdulillah di hari kedua air susuku sudah keluar sehingga sudah mulai menyusui secara ekslusif.

BERAT BADAN YANG TIDAK NAIK, ASINYA KURANG?

Minggu-minggu awal bayi di rumah jadi pengalaman yang bikin aku sedikit trauma sampai sekarang. Bangun malam sih aku gak masalah. Tapi rasa frustrasi karena gak ngerti kenapa bayi nangis terus itulah yang bikin aku cepat emosi.

Masih ingat banget gimana aku ngebentak bayi yang masih kecil itu hanya karena dia gak mau berhenti nangis. Belum lagi putingku lecet, jadi setiap kali bayi mau minum aku pasti nangis jejeritan karena nahan sakit yang sangat pedih.

Setiap malam aku tidur dalam posisi duduk sambil gendong bayi. Karena kalau ditaruh pasti bangun dan nangis lagi. Kadang kalau lagi kesel dan capek aku biarin anaknya nangis, barengan sama aku yang juga nangis 😭

Dan hal yang paling bikin aku sakit hati adalah omongan orang yang dengan gampangnya bilang,

“ASI kamu sedikit kali”

Please kalau kamu lihat ada ibu baru jangan sekali-sekali kasih komentar apapun. Cukup kasih kuping buat dengerin curhatannya. Atau paling bener sih kirimin makanan biar seneng 😜

Nah soal ASI yang jumlahnya sedikit ini awalnya aku juga cukup bingung karena semua hal yang berkaitan dengan ASI sudah kulakuin. Dari mulai makan makanan perangsang ASI, minum air putih, ASI Booster, relaks dengan nonton yang lucu-lucu, pompa, dan banyak lainnya.

asi booster

Tapi menurutku yang pada akhirnya aku pahami sekarang ternyata masalahnya adalah karena pelekatan yang belum tepat.

Kok gitu?

TERNYATA TOUNGE TIE

Jadi sebulan pertama anakku lahir, beratnya tidak naik sesuai KMS. Dokter pada waktu itu mau lihat dulu penyebabnya. Ternyata pada saat itu anakku punya tounge tie.

Singkatnya tounge tie ini membuat lidah bayi tidak bisa maksimal untuk menghisap ASI. Jadi yang dialami anakku adalah dia terus menghisap, tapi ternyata ASI nya gak dapet maksimal. Ini terlihat dari waktu menyusui yang sangat lama sekali, bahkan sampai berjam-jam. Tapi. Pas tidur gak pernah bisa lama. Karena mungkin belum kenyang.

Huhuhu sedih kalau inget ternyata anakku waktu baru lahir itu masih kelaparan karena posisi pelekatan yang belum benar.

Posisi pelekatan yang belum benar ini juga bikin puting sakit. Jadi buibu yang mau lahiran, coba belajar posisi menyusui ya. Soalnya kalo bener, paling engga hal terpenting buat mengenyangkan perut anak udah aman

Lanjut soal konsultasi dengan dokter. Jadi soal tounge tie ini memang salah satu solusinya adalah tindakan frenektomi. Jadi selaput yang ada di bawah lidah digunting sedikit sehingga nanti lidah bisa lebih leluasa geraknya.

Ini tindakan tanpa operasi, tapi dokter minta aku pertimbangkan dulu sambil ASI-ku dipantau dulu apakah masih bisa dimaksimalkan jumlahnya tidak. Jadi aku dikasih obat perangsang ASI.

Jujur pas tau solusinya digunting aku cuma kepikiran kasian sama bayinya. Jadi aku cari alternatif lain dengan pergi ke konselor ASI. Menurut konselor ASI yang kudatangi katanya tounge tie anakku tidak perlu sampai di frenektomi, karena masih bisa selama pelekatan dengan benar.

Jadi aku belajar posisi menyusui dengan posisi tiduran. Cuma lucunya ya kalau bayi diajak ke dokter, dia pasti anteng nyusu lho. Dan proses pelekatannya langsung bisa. Begitu di rumah, buyar semuaaaa. Hahahaha.

TINDAKAN FRENEKTOMI MENGUBAH SEGALANYA

Sampai akhirnya di usia anakku ke-40 hari ternyata berat badannya tidak naik signifikan. Bayangin aja, biasanya bayi mau 2 bulan kan montok-montok. Nah ini anakku cuma tulang doang dan badannya kecil hikss..

Sebelum ke dokter aku sempat nanya kebeberapa temen blogger yang anaknya juga tounge tie, seperti Mbak Tia, Mbak Tya, dan juga Manda. Dari hasil ngobrol itu aku putuskan untuk ambil tindakan frenektomi demi kesehatan anakku.

Proses frenektomi ternyata tidak semenyeramkan yang dikira. Proses guntingnya cuma hitungan detik. Cuma kita harus rada tega aja. Tangisan anak pun cuma sebentar karena langsung disusuin.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Lia Harahap (@liaharahap_lh)

Menurut dokter memang tindakan frenektomi ini juga bukan 100% menjamin berat badan anakku naik. Tapi ini salah satu tindakan yang bisa dicoba untuk mengatasi hambatan dalam menyusui akibat tounge tie. PR setelah frenektomi adalah senam mulut. Ini gunanya supaya hasil guntingan tadi tidak menyatu lagi. Dan dalam seminggu dicek lagi sama dokter.

Ya, selama bulan-bulan awal punya anak aku ke dokter hampir tiap minggu! Tapi ternyata usaha ini gak sia-sia. Di bulan ketiga sampai keenam berat badan anakku naik setiap bulannya masing-masing 1kg!

Alhasil berat badan anakku bisa berada di kurva yang normal. Proses menyusui pun jadi enak banget. Yang pasti anakku minumnya bisa nyaman dan banyak. Aku pun mulai pede nyusu sambil tiduran, jadi gak kecapekan lagi. Aku pun sukses menyusui secara ekslusif dengan ASI selama 6 bulan.

Sampai sekarang di bulan ke 11 (dua minggu lagi mau setahun!) aku masih menyusui dan semoga sampai 2 tahun ya. Bisa dibilang kayaknya nanti suatu saat akan menyapih sepertinya akan sangat kangen dengan rutinitas menyusui. Segitu enaknya sekarang setelah si anak juga udah semakin pinter nyusunya. Dan memang bener banget ternyata menyusui adalah bonding yang ngangenin buat aku.


Fiuhh panjang juga ceritanya. Ini pun ada yang kusingkat karena emang drama ASI itu nyata adanya. Tinggal kita aja yang harus cari celahnya.

Alhamdulillah ya ceritanya happy ending. Semoga tulisan ini juga bisa jadi penyemangat buat yang baca. Sebagaimana dulu aku suka cari tulisan tentang ASI supaya bisa menyusui anakku dengan baik. Tetap semangat ya semua ibu di luar sana 🙂

Leave a Reply