Dilema Gaya Hidup Minimalis Sebagai Beauty Reviewer

Setelah mengenal kata zero waste dan sustainable living, kali ini aku mulai mencoba memahami arti dari gaya hidup minimalis. Awalnya aku ngeh soal minimalism ini setelah membaca komik Marie Kondo: The Life-Changing Manga of Tidying Up: A Magical Story (The Life Changing Magic of Tidying Up).

Dari komik ini (iya, aku males baca bukunya jadi beli komiknya aja di Google Books hehehe) aku sadar bahwa kita selama ini terbiasa hidup dengan barang yang menumpuk akibat sering membeli barang yang belum tentu kita butuhkan.

Pas juga aku ketemu sama akun instagram Lyfewithless yang banyak sharing tentang gaya hidup minimalis. Selain instagram, aku juga beberapa kali denger juga podcast-nya yang walaupun sederhana dan simpel tapi bermakna sekali. Hingga akhirnya aku merasakan kesamaan tujuan yang membuatku mulai memutuskan untuk coba #BelajarJadiMinimalis.

Namanya masih belajar, jadi aku gak melakukan hal-hal yang ekstrem kok. Contoh kecilnya adalah aku mulai mengkurasi barang-barang yang ada di kamarku. Mulai dari baju yang jarang dipakai, kertas-kertas yang menumpuk, peralatan elektronik yang tidak kupakai, sampai isi goodie bag yang jarang tersentuh.

Sepele, tapi aku merasakan perbedaannya karena ternyata banyak juga barang yang menumpuk dan jadi sarang debu. Setelah dirapikan justru aku bisa punya storage tambahan yang kosong sehingga bisa diisi dengan barang-barang yang akan sering kupakai.

ALASAN MENCOBA GAYA HIDUP MINIMALIS

minimalism

Dari pengalaman beberes itu, aku menemukan banyak alasan kenapa gak dari dulu aja ya mencoba gaya hidup seperti ini. Beberapa hal positif yang kudapat adalah:

  • Aku jadi punya space yang lebih lega karena tidak ada lagi barang yang menumpuk. Dulu di lantai kamarku biasanya selalu ada barang, jadi sempit. Sekarang kuusahakan selalu dikosongkan.
  • Aku gak terbiasa menumpuk barang. Cuma beli apa yang aku butuhkan. Biarpun ada diskon, biasanya aku cuma mau beli yang memang sering kupakai.
  • Jadi lebih irit karena setiap mau beli mikirnya, “ini bakalan dipakai gak ya?”, “pakainya berapa kali ya?”, dll.

Soal irit ini juga sudah sempat kubahas di tulisan tentang alasan memakai barang yang reusable. Jujur memang motivasi utamaku sekarang adalah bisa hidup secukupnya tanpa bisa berlebihan. Lebih baik aku bisa menyisihkan uang untuk ditabung, daripada membuang uang dengan membeli barang yang nantinya cuma ditumpuk, expired, dan ujung-ujungnya harus dibuang.

DILEMA GAYA HIDUP MINIMALIS DENGAN PEKERJAAN SEBAGAI BEAUTY REVIEWER

hidup minimalis

Memilih gaya hidup minimalis ini sebenarnya sudah ideal jika tujuanku tadi untuk berhemat dan tidak menumpuk barang. Namun menjadi terbalik saat dikaitkan dengan pekerjaanku sebagai beauty blogger dan vlogger yang banyak mereview produk kecantikan.

Beberapa hal yang membuat kudilema adalah:

  • Membeli produk kecantikan terbaru untuk direview. Semakin cepat dibeli, maka semakin cepat bisa direview. Kecepatan review berpengaruh dengan jumlah viewers yang menonton dan membaca. Ini perlu untuk akun aku yang masih berkembang (karena otomatis akan kalah sama yang sudah besar). Sikap impulsif inilah yang membuat barang semakin menumpuk.
  • Setelah membeli biasanya suka banyak packaging yang menumpuk. Belum lagi kalau beli secara online, akan ada sampah yang lebih banyak daripada biasanya. Beberapa brand masih yang mementingkan estetika tanpa memikirkan bagaimana sampah dari kemasannya.
  • Kalau sehabis datang ke beauty event selalu dapat goodie bag. Selain packaging yang menumpuk, terkadang juga ada produk tambahan yang diberikan dalam bentuk souvenir. Kadang souvenirnya juga belum tentu dipakai, jadilah menumpuk.
  • Masih tentang beauty event. Aku paling males kalau sudah ada dress code dengan tema atau warna yang tidak ada di list pakaianku. Akhirnya aku harus beli dan biasanya aku jarang pakai lagi di lain kesempatan.

Itulah beberapa hal yang sedang kupikirkan belakangan ini karena biar bagaimanapun pekerjaanku ya seperti ini. Makanya jadi agak bertentangan jika ingin menerapkan gaya hidup minimalis.

Temanku, Melissa yang juga merupakan beauty content creator juga membahas hal yang sama tentang masalah ini di blog-nya, Gaya Hidup Minimalis vs Beauty Blogger. Coba mampir juga untuk tahu apa yang ada di pikiran Melissa.

BEBERAPA HAL YANG PERLU KUCOBA

Tapi di sinilah tantangannya. Makanya aku harus memutar otak bagaimana caranya agar keduanya bisa berjalan dengan baik.

SHOPPING BAN

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Minimalist Community | IDN (@lyfewithless) on

Ya memang aku harus mulai dengan tidak membeli barang secara impulsif. Konsekuensinya memang kontenku tidak akan selalu up to date, tapi kalau aku ikutin tren terus gak akan habisnya. Apalagi sekarang beauty industry lagi berlomba-lomba bikin produk baru terus. Rasanya gak perlu ah dibeli semua, kecuali kalau ada produk yang memang aku sudah habis barangnya.

BE CREATIVE

Karena kontenku gak up to date, maka dari itu aku harus bisa lebih kreatif lagi dalam membuat konten. Entah itu dari segi penulisannya, ambil gambarnya, atau apapun itu yang tetap informatif dan menarik. Ini memang tantangannya. Tapi syukur-syukur juga dengan cara ini bisa menciptakan tren baru yang digerakkan oleh Lyfewithless, yaitu #PakaiSampaiHabis.

SAY NO TO…

Aku perlu belajar juga untuk menolak:

  • plastik kemasan saat belanja online
  • kemasan PR package yang cantik, tapi jadi nambah sampah
  • souvenir yang tidak akan kupakai

DONATE

Kalau yang ini sebenarnya sudah kuterapkan sih. Dalam suatu waktu aku suka mengumpulkan produk kecantikan dan juga baju yang masih layak digunakan. Nantinya akan kukasih ke saudara-saudara. Alasan aku gak pernah jadikan giveaway atau dijual lagi karena ini produk yang diberikan oleh brand dan juga sudah kupakai (ada juga sih yang belum dipakai). Rasanya gak etis kalau dijual lagi. Kalaupun giveaway pasti kukasih yang baru.

Untuk baju aku juga biasanya selain dikasih ke saudara-saudara, beberapa kali juga sudah jualan di Tinkerlust. Pengen juga suatu saat nyoba konsep tukar baju yang belakangan juga banyak dipakai oleh orang lain.

Tinkerlust


Sejauh ini hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyelaraskan gaya hidup minimalis dengan pekerjaanku sebagai beauty reviewer. Semoga saja berjalan lancar dan tetap bisa berkreasi tanpa memberikan dampak buruk bagi lingkungan dan juga kehidupanku sendiri.

Kalau misalnya ada ide lain soal gaya hidup minimalis ini, boleh banget share di kolom komentar ya. Aku juga masih perlu banyak belajar lagi 🙂

15 Replies to “Dilema Gaya Hidup Minimalis Sebagai Beauty Reviewer”

  1. Aku habis masukin 6 lipstik ke keranjang shopee + 1 palet… 6 lipstik itu warna baru dari brand yang akan mendulang visitor banyak dan aku udah pernah review 5 warna sebelumnya,,, tapi pada akhirnya aku checkout 1 palet eyeshadow doang,,, emang ya pengennya tuh cobain semua tapi habis gitu ga kepake semua warna yang ada malah nyesek, mau dijual kok ya itu bekas bibir gitu jaman covid gini ngeri hahahaha

  2. Inspiratif banget deh kamu sister, selalu senang membaca Blog dan Nonton YT nya ^^
    Aku pun sejak WFH banyak kelaurin barang2 yang gak kepake wkwkwkwk dan keliatan banget kalau ternyata selama ini lemari penuh sama baju berbagai DC event hahaha. Keep inspiring ya ^^

    1. Thank you Gie. Amin semoga bermanfaat yaaa kontenku ?.

      Yes, saat WFH gini pas banget ya buat beberes. Bukannya malah belanja hahaha.

  3. aku juga mulai belajar nahan diri buat gak beli ini itu secara impulsif kak:’) sejauh ini sih buat skincare aman, tapi masih belajar buat pelan pelan ngerem beli lip produk wkwk, masih susah~

  4. huhu, dilema di atas tuh pikiranku banget.. karena ingin mengkurasi barang yang dipunya itu juga makanya aku memutuskan untuk ga jadi reviewer atau blogger yang fokusnya pada review. awalnya berminat banget, tapi memikirkan efeknya pada clutter dan dompet juga haha, ku mikir keknya mending mencoba fokus ke niche lain.

    pada akhirnya, ku tetep suka mengoleksi sesuatu (parfum), tapi bener2 kutahan, ngga bener2 beli baru banyak. untungnya kelanjuan industri fragrance di indonesia masih belom se-booming produk beauty lain seperti lipstik. Semoga mbaknya makin menemukan balance untuk tetap berimbang antara review dan minimalisasi-nya yaa 🙂

    1. Aamiin 🙂 Iya nih memang jatuhnya dilema, cuma aku pikir harus bisa. Soalnya ada beberapa merek dan founder-nya yang mulai bahas soal ini. Salah satunya Liah Yoo (Krave Beauty) yang memilih untuk gak memperbanyak produk dalam waktu singkat. Dan aku jadi terinspirasi juga dari situ. Kupikir kalau ini juga dipikirin sama brand-brand lokal bakalan keren juga. Semoga yaaa.

  5. Farah juga gitu kak, bukan hanya karena zero waste tapi juga money waste ?
    Emang sih Farah juga jadi beauty reviewer, tapi justru kebanyakan produk malah gak jadi baik buat Farah, jadi Farah sekarang lagi ngereview apa yang lagi Farah pakai, gitu aja kak

  6. sama mbak, aku juga mencoba “mengosongkan” area sekitar aku biar g sumpek ngelihatnya walau setelah beberapa saat muncul lagi paling g aku uda punya standar apa yg harus dilakukan dengan tumpukan itu biar g makin beranak pinak. dan mulai pakai sampai habis. sudah ada beberapa produk yg aku pakai sampai habis dan emang rasanya puas banget

    1. Rasanya jadi lebih gak pusing ya, Mbak. Kalau numpuk kadang aku suka pusing sendiri. Tapi sekarang karena barangnya sedikit, ada kotor sedikit langsung kubersihin. Gak butuh waktu banyak juga bersihinnya 🙂

  7. Dilema yang menarik mb. Nice post, menambah perspektif saya terkait gaya hidup minimalis yang juga baru saya nikmati beberapa tahun terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *