Umroh | Part 5

Rasanya gak afdol ya kalo ga nyelesain cerita perjalanan saya ke Tanah Suci dalam rangka Umroh. Jadi mari kita lanjutkan lagi ceritanya. Semoga belum bosan yaaaa 🙂
Hari Kelima | 21 Januari 2015

Kali ini kami semua peserta berkumpul untuk siap-siap melakukan Makkah City Tour. Setelah sarapan kami semua siap-siap naik ke bus. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Exhibition of The Two Holy Mosques Architecture. Di sini kita bisa melihat foto-foto, maket masjid, sampai beberapa benda bersejarah dari kedua masjid suci yaitu, Masjidil Nabawi dan Masjidil Haram

Saya suka sekali karena banyak foto atau lukisan yang menggambarkan kota Makkah dari jaman Rasulullah. Sayang sekali untuk mengejar waktu solat, jadi kami hanya sebentar di sini. 

Perjalanan hari ini cukup singkat. Sebenarnya kami diajak oleh pembimbing untuk melihat Gua Hira, tempat pertama kali diturunkannya wahyu. Cuma dengan pertimbangan menjaga stamina karena malam sebelumnya saya baru saja umroh dan rencananya besok siang saya mau melaksanakan umroh lagi, jadi saya dengan berat hati memutuskan untuk tidak pergi.

Hari Keenam | 22 Januari 2015
Di hari ini kami diberikan kesempatan lagi untuk melakukan Ibadah Umroh. Bagi yang ingin meng-Umrohkan orang tuanya bisa menggunakan kesempatan ini. Saya sendiri masih melakukan umroh untuk diri sendiri sebagai penyempurnaan ibadah sebelumnya. 
Jabal Nur

Jabal Rahmah. Tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa.
Sebelum mengambil Miqot, kami diajak dulu untuk pergi ke beberapa tempat bersejarah seperti Jabal Nur, Padang Arafah, Jabal Rahmah, Musdalifah, dan Mina. Namun kembali dengan pertimbangan waktu, perjalanan ini agak sedikit terburu-buru. 
Karena kami telah bermukin di Makkah selama beberapa hari, maka tempat kami untuk mengambil Miqot adalah di Ji’ronah yang tidak jauh dari Kota Makkah. Masjid Ji’ronah tidak besar, tapi saya suka lihat masjidnya yang berwarna putih gading. Di sini kami melakukan solat dua rakaat dan dilanjutkan dengan membaca niat.
Bismillahirrohmannirohim. Semoga lancar umrohnya.
Tantangan umroh kali ini cukup berat, karena dilakukan saat siang hari. Cuaca Makkah yang panasnya sama dengan kota Jakarta benar-benar membuat keringat mengucur di sekujur tubuh. Tapi semua halangan tersebut tidak mengurangi nikmat kami dalam melakukan ibadah. 
Sesaat saya kembali melakukan Tawaf dan melihat Ka’bah, kembali air mata tidak sanggup ditahan. Selama beberapa putaran saya masih tidak konsen karena menangis bahagia melihat bangunan yang menjadi kiblat seluruh umat muslim di dunia ini. 
Selesai Tawaf kami melaksanakan ibadah Sa’i. Karena bertepatan dengan Azhar, kami sempat berhenti di pelataran Safa-Marwa untuk melaksanakan solat. Wow, pengalaman baru lagi untuk saya disaat semua orang sedang beribadah, menjadi berhenti dan langsung menyusun barisan untuk melaksanakan solat. Maha suci Allah yang mengajarkan umat-Nya untuk taat melaksanakan ibadah sesuai dengan waktunya 🙂
Alhamdulillah ibadah kami kali ini pun kembali berjalan lancar. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk bersih-bersih.

Hari Ketujuh | 23 Januari 2014
Hari ini adalah hari Jumat. Spesial hari ini saya dan keluarga kompak pakai baju hitam-hitam ala-ala orang Arab. Hehehe. Hari ini kami punya waktu bebas. Selain beribadah kami juga menyempatkan diri untuk berkeliling sekitar hotel untuk melihat-lihat. 
Tidak lupa kami masuk mall yang berada di bawah bangunan Zam-Zam Tower. Menurut saya mal di Makkah tidak jauh beda dengan mal di Jakarta. Banyak barang branded yang gak asing. Tapi ternyata ada bedanya juga lho saat saya mampir ke Starbucks. Tempat makan wanita dan keluarga dipisah. Walaupun akhirnya saya masih bisa nyelonong ke tempat keluarga untuk membeli tumbler yang ada di sisi keluarga. Hehehehe.
Hari Kedelapan | 24 Januari 2015
Hari terakhirrrr! Hiks sedih banget deh hari ini. Rasanya masih belom rela balik ke tanah air.
Di hari terakhir ini kami bangun jam 3 pagi untuk siap-siap melaksanakan Tawaf Wada atau Tawaf perpisahan. Seperti biasa saat melihat Ka’bah untuk ketiga kalinya, saya kembali nangis lagi. Apalagi tahu bahwa ini saat terakhir kami melihat Ka’bah. Rasanya sedih dan bakalan kangen. 
Ada satu cerita yang saya sangat bersyukur dan yakin kalau Allah benar-benar sayang sama saya. Sehari sebelum berangkat umroh saya sudah minum pil penahan menstruasi karena memang perjalanan ini sedikit bertepatan dengan jadwal bulanan saya. Walaupun prediksi saya menstruasi saat kepulangan dari Mekkah, tapi saya mempersiapkan diri untuk minum pil dari mulai berangkat karena takut jadwalnya jadi maju. Sedih banget dong kalo saya cuma duduk di hotel, sedangkan yang lain solat di masjid. Mungkin saya bakalan nangis meraung-raung kali di kamar hotel hehehe.
Nah setelah umroh terakhir saya, saya memutuskan untuk berhenti meminum pilnya. Dengan alasan saya gak tahan liat muka yang langsung dipenuhi jerawat gede-gede. Saya pikir toh sudah selesai ibadah wajibnya, dan yakin kalau tidak bakalan mens. Saya pun tetap ke masjid dan melakukan ibadah, sampai ke ibadah terakhir, Tawaf Wada. Setelah putaran terakhir Tawaf Wada kami semua langsung berjalan ke arah pintu keluar. Setelah itulah saya merasa kalau saya datang bulan, dan ternyata benar!
Alhamdulillah, Allah masih kasih saya kesempatan untuk mengucapkan perpisahan sebelum pulang. Gak tau rasanya gimana kalau pas bangun ternyata saya sudah tidak bisa datang ke Masjidil Haram. Kayaknya bakalan nangis meraung-raung lagi sampai di pesawat deh hehehe. Tapiiii… Pembimbing kami juga cerita, sebenarnya kalau para wanita ternyata tidak bisa mengikuti ibadah wajib tidak apa-apa. Kita harus ikhlas dan siapa tahu pahala ikhlas kita sama dengan pahala yang melaksanakan ibadah wajib 🙂
Selesai melaksanakan solat Subuh, kami semua siap-siap sarapan dan check out dari hotel menuju Jeddah. Sebelum ke Jeddah kami mampir ke salah satu pusat perbelanjaan dimana kita bisa beli oleh-oleh untuk orang-orang tercinta di tanah air. Nama tempatnya adalah Toko Ali Murah, yang menurut saya tidak murah-murah amat sih. Hehehe. 
Lucunya para pedagang di sini juga bisa berbicara Bahasa Indonesia. Mereka bisa-bisanya lho teriak-teriak menarik pengunjung bilang, 
“Real bisa, Rupiah bisa. Cash bisa, hutang bisa!”
Hahahahaha!
Destinasi terakhir kami adalah ke Masjid Terapung di sebelah Laut Merah. Katanya, nama asli masjid ini bukan Masjid Terapung. Penamaan terapung cuma nama buatan dari jamaah-jamaah asal Indonesia. Emang orang Indonesia paling jago deh kasih julukan-julukan. Hehehe.
Di sini saya juga mencoba menggunakan pacar. Sempet terjadi miskom sih pas tawar-menawar harga. Tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja. Saran saya, untuk bertanya apakah harga yang ditawarkan mereka adalah harga untuk satu tangan. Karena bisa saja kita pikir harga tersebut untuk dua tangan, ternyata harga untuk satu tangan.
Gara-gara pakai pacar ini juga kita sempet terlambat ditungguin sama jamaah lainnya yang sudah di bus. Hehehehe. 
Selanjutnya kami langsung pergi ke Bandara King Abdul Azis, Terminal Haji. Proses dari check in sampai boarding cukup lama dan membosankan. Walaupun kita sebenarnya bisa saja makan atau buka-buka internet. 
Setelah magrib kami siap-siap untuk masuk dalam pesawat. Rasanya makin sedih aja saat bus pengantar ke pesawat berjalan sepanjang lintasan bandara. I can’t believe I am going home!
Satu cerita lagi nih selama di pesawat dalam perjalanan pulang. Sepanjang setengah perjalanan pulang, saya benar-benar takut berat. Turbulance selama di atas Lautan Arab benar-benar keras dan bikin saya gak berhenti komat-kamit berdoa. Herannya orang-orang kayaknya pada bisa tidur dengan tenang. Saya sih bolak balik ngecek peta, dimana kita berada??! Hahahaha.
Hari Kesembilan | 25 Januari 2015
Setelah perjalanan panjang nan mengerikan itu, Alhamdulillah kami sampai di Jakarta dengan selamat. Senang sekali telah melalui perjalanan panjang yang berarti banyak untuk saya.
Kalau flash back dimana saya awalnya yang ngerasa takut dan gak yakin sama perjalanan ini, kenyataannya saya sekarang selalu berharap suatu saat nanti bisa dikasih kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci lagi (tapi skip perjalanan di pesawatnya boleh gak sih? :P).
Saya juga bersyukur dengan perjalanan ini makin mendekatkan hubungan saya dengan keluarga. Yang biasanya di Jakarta, walaupun serumah tapi bisa gak ketemuan seharian. Rasanya seneng bisa kumpul terus selama 9 hari kali 24 jam bersama mereka.
Doa saya, Ya Allah berikan kami kesehatan, rezeki, dan kesempatan supaya kami bisa mengunjungi rumah-Mu kembali. Amien Ya Robbalalamin 🙂

9 thoughts on “Umroh | Part 5

  1. Itu maksudnya hutang bisa gimana tuh?
    Kalau yang berhutang mau pulang dan gak ke sana lagi gimana ya?

    Nice story Mba. Opened my horizon about Umroh.

  2. Iyaaa… Rame banget. Tapi denger-denger dari papa sama adek cowokku ada tempat yang lebih murah lagi. Mereka beli parfum bisa setengah harganya!

    Kangen pengen kesana lagi ya, Mbak Mia 😀

  3. Mungkin pake credit card kali ya. Atau mereka cuma asal ngomong aja. Cuma pas ngomong gitu emang dengernya lucu aja, kayak yang ngomong abang-abang jualan di tanah abang hehehe. Lagipula kayaknya mending pake Real aja deh di sini, sekalian penghabisan sisa Real di dompet hahahaha.

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)