Persiapan Ibadah Umroh

Haloooo semua! Apa kabarnya?
Saya hilang sementara nih beberapa minggu yang lalu. Tidak lain karena baru saja kemarin menunaikan Ibadah Umroh bersama keluarga selama 9 hari.
Gimana rasanya? Seneeeeeeng banget sampe gak mau pulang dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang membosankan.
Kali ini saya belum cerita dulu tentang perjalanan di sana. Saya mau sharing terlebih dahulu tentang persiapan sebelum keberangkatan saya ke tanah suci.
Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, saya sempat ingin menolak ajakan orang tua untuk pergi Umroh. Kenapa? Alasan sepele sih, seharusnya tanggal 29 Januari 2015 besok saya akan pergi jalan-jalan dengan teman-teman ke Singapura. Karena udah beli tiketnya dari 1 tahun sebelumnya (dan harganya murah banget), jadi saya sempet ogah-ogahan menerima ajakan tersebut. Saya juga tidak bisa pergi ke dua tempat destinasi ini, karena cuti tidak mencukupi.
Entah dapat ilham dari mana, pada akhirnya saya pasrah dan ikhlas untuk lebih memilih pergi bersama keluarga ke tanah suci. Sempet gak enak juga sama temen-temen karena gara-gara saya batal, mereka pun membatalkan kepergian kami ke Singapura. But, they are the greatest friends that I’ve ever had! Mereka support sekali ibadah saya ke tanah suci ini.
Nahhhh karena sudah mantap dan yakin untuk berangkat, ternyata belum sepenuhnya saya mempersiapkan diri untuk pergi. Sampai sebulan sebelum berangkat saya juga ga tau mesti siapin apa. Yang ada cuma siapin surat cuti ke bos. That’s it! Hahahaha.
Sampai akhirnya dari Tour Tazkia, tour yang orang tua percaya selama 2 tahun untuk memberangkatkan kami ke tanah suci, mengadakan acara Manasik Umroh. Saya tidak tahu apakah tour lain juga melakukan kegiatan yang sama dalam rangka keberangkatan jamaahnya.
Kami melakukan Manasik di Masjid Andalusia, Sentul. Lokasinya persis di seberang Pasar Ahpoong. Acara diadakan di aula yang berada di bawah masjid. Setelah dibuka dengan saritilawah dimulailah acara dengan diisi oleh pembicara sang pemilik Tour Tazkia, Muhammad Syafii Antonio.
Topik yang dibicarakan cukup menarik, mengenai islam dan tentang umroh itu sendiri. Selain itu, Pak Syafii juga agak sedikit “promosi” bukunya mengenai peradaban Islam di dunia. Dan ternyata cukup menarik juga karena Beliau memasukkan negara minoritas muslim seperti China sebagai salah satu peradaban Islam. Saya suka dengan cara Beliau berbicara dan berdakwah. Kepengen juga suatu saat bisa ikut lihat dakwahnya secara lengkap 🙂
Setelah Pak Syafii undur diri, acara diisi dengan pemantapan. Dari sesi inilah saya mengerti dan sedikit demi sedikit mulai terbuka pikirannya mengenai tujuan saya ke tanah suci. Kami digali lagi lebih dalam mengenai niat, yaitu salah satu persiapan yang saya belum lakukan.
Baru kepikiran lho, di Makkah dan Madinah saya mau ngapain ya? Selfie depan Ka’bah? Pamer belanja di Zam-Zam Tower? Apakah benar itu? Jujur setelah mengetahui niat ini, jalan saya lebih mudah dan tidak bingung. Saya yakin dan siap untuk berangkat. Dan saya gak mau perjalanan ini menjadi perjalanan yang sia-sia. Alhamdulillah saya berhasil memantapkan niat berangkat ke tanah suci.
Tak lupa, kami juga di ajak bermaaf-maafan dengan orang tua, saudara, bahkan orang yang baru kami. kenal di dalam ruangan. Tujuannya sih supaya sama-sama dari nol. Ikhlas dan tidak ada rasa benci atau dendam. Wah, sesi ini sih paling penuh air mata. Saya berhasil gak nangis pas bagian digojlok-gojlok perasaannya sama sang ustadz mengenai iman, dosa, dan lain-lainnya. Pas disuruh dateng ke kursi orang tua untuk minta maaf, yahhh mana pernah bisa nahan air mata! Hahahaha.
Setelah nangis ria, kita langsung makan siang dan solat zuhur. Acara dilanjutkan dengan Manasik Umroh. Dimana kami di ajak ke bagian belakang masjid yang sudah ada miniatur Ka’bah. Kami di ajak sama-sama untuk melakukan simulasi kegiatan Umroh seperti Tawaf dan Sa’i.
Selesai deh hari itu persiapan iman dan mental untuk berangkat pergi ke Makkah dan Madinnah.
Selain pemantapan niat di atas (yang menurut saya paling penting), ada beberapa hal lain yang harus disiapkan juga sebelum keberangkatan, yaitu:
  1. Pakaian. Apalagi yang tidak pakai hijab sehari-harinya seperti saya. Sudah pasti harus mulai menyortir pakaian muslim yang bisa dipakai. Sisanya kalau tidak ada, ya harus mulai nyicil hihihi. Menurut pengalaman saya, pakaian gamis lebih nyaman dan gak ribet dipakai. Selain itu serasa seperti penduduk Arab lainnya saja. Hehehehe. Supaya lebih gampang dan tidak bingung pas hari H, siapkan baju sesuai dengan itinerary-nya. Jadi pas di sana, sudah langsung ambil satu set pakaian tanpa perlu mikir gimana mixed and match-nya. Perhatikan juga cuaca di kota tujuan. Jika masih dingin, tidak ada salahnya membawa jaket.
  2. Lip Balm, Body Butter, & Sun Screen. Kepergian saya adalah di bulan Januari dimana Kota Madinnah masih dingin sekitar 16 derajat. Dan Kota Makkah agak panas seperti Jakarta. Diakui kulit saya sangat kaget. Saat di Madinnah, kulit terasa ketarik dan kaki mulai pecah-pecah. Begitu sampai di Mekkah yang panas, kulit bingung lagi, kadang suka terasa kelupas. Situasi seperti ini tidak baik bagi kulit. Maka itu, harus perlu membawa ketiga personal care ini.
  3. Kaos Kaki. Selain karena wanita harus menutup auratnya (termasuk kaki!), kaos kaki pas sebagai penyelamat kaki yang kedinginan. Kalau memakai sendal jepit, gunakan kaos kaki yang ada pemisah antara jempol dan telunjukknya. Atau biar lebih memudahkan wudhu juga ada kaos kaki yang bolong di tengahnya sehingga bisa di angkat sampai ke betis.
  4. Sandal. Kalo saran saya sih mending bawa sandal yang model karet seperti Crocs. Karena kita akan sering sekali pergi ke Masjid dan juga mengambil Wudhu. Kalau pakai sandal seperti karet jadi lebih nyaman. Jangan lupa sediakan tempat sandalnya, supaya bisa di bawa masuk saat ke Masjid.
  5. Sajadah. Ini juga penting! Selain buat sholat, bisa juga berjaga-jaga jika suatu saat tidak dapat tempat solat. Sehingga alas solat kita tidak kotor atau dingin. Pilih bahan yang tipis, tapi tidak menghantarkan dingin. Maklum, lantai masjid di sana pada dingin-dingin hihihihihi.
  6. Kesehatan. Bagi yang punya penyakit jangan lupa mempersiapkan obat-obatan yang perlu dibawa. Jangan lupa untuk mencoba setahap demi setahap berjalan kaki di sekitar rumah, sebagai persiapan ibadah fisik seperti Tawaf dan Sa’i. Banyak makan sayur dan obat-obatan supaya badan fit (karena akan banyak kurang tidur).
  7. Bagi wanita, selalu cek jadwal menstruasi. Kalau mengkhawatirkan bisa bertepatan dengan jadwal Umroh (seperti saya!), segera tanyakan ke Dokter mengenai obat pencegahnya.
  8. Melakukan vaksin Meningitis. Untuk yang satu ini saya sudah disiapkan dari tour. Jadi tinggal suntik aja 😀
Kira-kira seperti itu yang harus disiapkan. Kalau ada yang ingin ditambahkan, silahkan ya!
Oke sekian dulu cerita saya mengenai persiapan berangkat ibadah Umroh kali ini. Lain kali saya cerita tentang perjalanannya ya!
See you!

5 thoughts on “Persiapan Ibadah Umroh

  1. planning ku akhir tahun 2015 ini moga2 bisa berangkat :).. awalnya memang krn capek disindir mulu ama ortu, tiap thn sllu traveling k LN, tp ga prnh nginjakin kaki k rumah Allah -__-. dipikir2, iya sih, mungkin skr hrs kesana dulu.. moga2 sepulang dr sana bisa makin bnyk datangin negara2 lainnya 😀

  2. Betul sekali. Secara gak langsung sebenarnya awalnya saya kayak merasa "dipaksa" kesana sama ortu. Tapi ternyata ini adalah perjalanan yang gak pernah saya sesali. Bahkan disetiap doa, saya kepengen bisa dikasih kesempatan, rezeki, dan kesehatan supaya bisa datang lagi ke Tanah Suci ini 🙂

    Bismillah ya Fanny, semoga selanjutnya kesempatan kamu menuju Rumah Allah 🙂

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)