Full Day School, Setuju Atau Tidak?

Sejujurnya saya gak terlalu suka pergi ke sekolah. Sampai sekarang saya masih belum menemukan hal yang membuat saya senang saat berada di sekolah.

Makanya saat ada wacana untuk memperpanjang waktu belajar di sekolah beberapa waktu yang lalu (Full Day School), saya ngerasa bersyukur…… Bersyukur udah gak perlu berangkat sekolah lagi hihihihihi.

Becanda ya, peace 😀

Mengomentari hal yang sempat menjadi pro kontra di masyarakat Indonesia, saya sih menanggapinya dengan pertanyaan, “apakah anak-anak akan mendapatkan mata pelajaran umum secara penuh selama jam belajar yang full itu?”

Kalau saya sih melihatnya balik lagi ke konsep yang akan diterapkan dari Full Day School.

Selama waktu di sekolah yang penuh itu bisa dibagi-bagi dengan baik, pastinya juga akan lebih memberikan hasil yang positif untuk murid-murid.

Misalnya, jam pelajaran normal diisi dengan mata pelajaran umum. Namun di sisa waktu sampai sore hari hanya diisi dengan kegiatan seperti ekstrakurikuler. Maksudnya adalah agar kecerdasan dapat diimbangi dengan ketrampilan.

Satu hal yang saya sayangkan saat masih bersekolah adalah saya tidak pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang banyak. Alasannya sih karena orang tua saya itu gila sekolah. Baginya sekolah itu lebih penting daripada saya ikut kegiatan di luar pelajaran.

Padahal jaman sekarang itu dunia sudah berubah 100%. Kecerdasan tidak diimbangi dengan ketrampilan juga seperti ada yang kurang.

Lagian gak semua anak juga mau kan kerja jadi karyawan di kantor? Ada yang mau jadi pengusaha kuliner, punya bisnis fotografi sendiri, atau self employed seperti menjadi full time blogger (seperti cita-cita saya, AMIEN!). Sekarang mata pencaharian sudah luas lingkupnya.

Saya perhatikan juga banyak teman-teman saya yang cerdasnya minta ampun, tapi social skill-nya memble.

Apakah mereka survive saat bekerja? Survive sih, cuma agak susah untuk diajak bergaul. Akhirnya dia jadi tertutup sama dunianya sendiri.

Makanya, saya sih setuju-setuju aja kalau sekolah dibuat menjadi full day. Asal sekolah memfasilitasi kegiatan non-akademik yang bisa meningkatkan ketrampilan siswanya.

Beberapa pelajaran tambahan non akademik yang bisa dijadikan masukan, antara lain:

  • Memasak. Siapa tahu bisa jadi koki di restauran sendiri, ya gak?
  • Menjahit. Eh, serius saya nyesel gak bisa jahit. Padahal kan kalau bisa, saya bisa jahit souvenir pernikahan sendiri #eh 😛
  • Fotografi dan Videografi. Biar YouTube isinya konten-konten yang bagus dan juga dari segi sinematografinya kece. Hollywood here I comeeeeeee~
  • Ketrampilan Bahasa. Sekolah memang sudah mewajibkan untuk belajar Bahasa Inggris. Tapi gak ada salahnya kan kalau bisa belajar bahasa lainnya yang potensi bakal ngetop di Indonesia. Kayak, kebayang gak sih kalau demam Korea dan India itu bisa heboh di Indonesia. Coba kalau bisa belajar bahasa keduanya, pasti kita udah jadi translator aktris-aktris kece itu 😀
  • Dan masih banyak lagi. Karena saya yakin semakin ke depan akan semakin luas mata pencaharian seseorang. Tinggal temukan aja hal yang disukai.

Oh iya, pelajaran tambahan ini ada baiknya bisa dipilih oleh siswa. Sehingga memang benar-benar mereka mengikuti pelajaran sesuai dengan keinginannya.

Hal ini juga sebenarnya dapat membantu siswa untuk mengetahui minat dan bakatnya sebelum melanjutkan ke jenjang perkuliahan yang sudah lebih spesifik lagi.

Lalu untuk anak-anak yang masih sekolah dasar bagaimana? Menurut saya sih sama saja. Diberikan beberapa pilihan pelajaran yang dapat dipilih. Namun materinya disesuaikan dengan umurnya.

Justru semakin cepat mereka mengetahui minatnya, semakin banyak waktu untuk mengasah kemampuannya.

Semoga dengan cara tersebut kualitas anak-anak Indonesia menjadi lebih baik lagi dan tidak kalah dengan anak-anak dari negara maju lainnya.

Full Day School asal dibagi dengan baik sih saya setuju. Kalau menurut kalian bagaimana?


Tulisan dibuat untuk mengikuti Collaborative Blogging KEB dengan tema Full Day School. Tulisan dengan tema yang sama sudah ditulis oleh Mak Yuniari Nukti, lho!

Mohon maaf juga kalau penjabaran saya dalam tulisan kali ini kurang baik. Maklum, masih belum bisa mengambil dari sudut pandang orang tua. Maka saya memposisikannya sebagai murid.

Semoga suka 🙂

35 thoughts on “Full Day School, Setuju Atau Tidak?

  1. Sebagai masukan, saya sih melihatnya cukup ngonteks. Benar, kita perlu improvisasi di masa yang berubah serba cepat ini. Dan kalau boleh saya berpendapat, selain soal materi yang perlu di perhatikan, ada hal lain yang juga cukup penting disoroti. Sebut saja paradigma pendidikan kita yang masih gak jelas jenis kelaminnya. Ini penting sebab berimbas pada banyak hal. Misalnya soal kurikulum pendidikan Dasmen yang playnoy. Eeh. Hehehehe. Buat meramaikan aja mbak. Salam kenal…

  2. Kalau full day berarti pelajaran non akademiknya kan harus lebih banyak dari non full day ya Mbak? Nah, sekolah harus nyari guru tambahan buat itu. Otomatis tambah pula biayanya. Hihi..itu baru satu sisi, ya 🙂

    1. Ternyata memutuskan sebuah keputusan itu perlu dilihat dari berbagai sisi ya. Hehehehe. Saya hanya melihat satu sisi saja.

  3. Secara konsep sih aku setuju, karena memang umur-umur segitu itu ya waktunya belajar dengan giat. Tapi yang namanya belajar bukan cuma sekedar pelajaran umum dan wajib, melainkan juga hal-hal lain yang menjadi minat utama anak, dan itulah bagian kelas ekstrakurikuler. Dan aku juga menangkapnya begitu ya. Bahwa full day school itu gak melulu belajar seharian, tapi ada kegiatan belajar bermainnya juga.

    Secara pribadi aku adalah orang yang menjalani full day school dari SD SMP SMK. Masuk pagi pulang sore terus. Kalau SD SMP, paginya sekolah umum, siang sampai sore di madrasah belajar ilmu agama. Pas SMK ya memang jam pelajarannya dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Tapi sejauh ini sih aku gak merasa ada negatifnya, malah banyak positifnya.

    So, aku termasuk yang mendukung full day school.

    Menyoal tentang banyaknya keterbatasan teknis selama ini ,,, ya itu gak usah dijadikan alasan lah. Justru itu ruang untuk berkembangnya, yang bisa kita oleh bersama. Kalau belum apa-apa kita udah pakai keterbatasan teknis sebagai alasan, ya kapan mau majunya? Karena kreatifitas itu berkembang ketika kita harus menyintas keterbatasan.

    1. Sudut pandang dari yang pernah merasakan nih.

      Terima kasih Kak Bart sudah mau membagi pengalamannya. Apapun keputusannya aku berharap yang terbaik demi pendidikan anak-anak Indonesia 🙂

  4. Iya kalo ada banyak macem aktivitas ya why not ya. Tp sebenernya lbh baik kalo dijadiin options. Kalo mau ya boleh tapi kalo anaknya ada aktivitas lain di luar sekolah ya gak perlu ikutan

    1. Sebenernya aku melihat dari pengalaman Andrew dan Emma, Mas. Di luar aktivitas sekolah juga ada banyak kegiatan lain. Dan semuanya baik.

      Mungkin di Indonesia juga ada dan masih berupa les. Seandainya dijadikan dalam kegiatan sekolah, maka diharapkan kesempatan seperti ini bisa merata ke siapapun anaknya.

      Tentu kembali lagi ke pilihan anaknya sih. Kalo gak sanggup jangan hehehehe.

      Terima kasih sudah ikut memberikan pendapat ya, Mas Arman 🙂

  5. Aku dulu senang sekolah dan betah di sekolah (selama masih bisa lihat gebetan #eh). Sekarang anak-anakku gak sekolah dan aku gak setuju anak2 menghabiskan mayoritas waktunya di luar rumah (lewat fulldayschool ini).

  6. hehehe sekarang full day of school untungnya cuma jadi wacana, semacam alert kalau mentri baru nya hadir gitu aja.

    Tapi boleh juga tuh kalau full day of schoolnya di pakai buat ngembangin bakat (bukan pelajaran umum yang bikin pusing)

    Tapi tetep sih anak anak tetep harus cukup istirahat.. Apalagi kalau di jakarta macet, full day of school kaya apa rasanya kalo pas pulang harus barengan sama orang orang pulang kerja ? hihi

    1. Mungkin bisa diajukan ada waktu tidur siang kali ya. Jadi bukan sekedar belajar aja. Tapi seperti di rumah hanya saja ini di sekolah. Supaya dalam pengawasan. 🙂

  7. Kalau saya termasuk orang yang suka banget ke sekolah padahal sekolahku ya seperti sekolah pada umumnya. Saya suka belajar di kelas, menjawab pertanyaan dari guru, menyelesaikan PR sebaik mungkin plus bergaul dengan teman-teman sekelas dan teman-teman sekolah karena kalau di rumah saya termasuk kuper karena lingkungan rumah yang kurang baik. Mungkin kalau saat itu Pak Mentri menerapkan sistem FDS, saya termasuk yang paling bahagia…..{siap2 ditimpuk teman sekelas, hehehe)
    saya setuju pentingnya membekali anak2 dengan keterampilan. Kan gak semua anak ingin menjadi PNS misalnya. Atau jadi dokter, guru dan beragam pekerjaan akademis lainnya. Oh ya, saya juga nyesel gak bisa menjahit padahal keluarga besar bapakku penjahit lho. Alhamdulillah kalau sekadar menjahit baju-baju sobek sih masih bisa lah….

  8. bagus juga siih mba kalau seperti yang mba utarakan, tapi kalau dari pagi sampai sore hanya belajar secara akademik sesuai kurikulum rasanya anak2 kasian dan saya yakin akan mudah bosan.

  9. Eh kita sama Lia, aku juga bukan orang yang betah di sekolah. Tiap ke sekolahan bawaannya bete. Kemarin lihat papan sama bangku, sekarang gitu lagi. Apalagi ketemu pelajaran macam Fisika sama Biologi, bawannya pengen aja lari ke kantin haha…

    *komen ini diposisikan saya sebagai anak murid* 😀 😀

  10. katanya konsepnya memang gak seharian belajar akademis. Belajarnya cuma setengah hari tapi setelah itu diisi dengan kegiatan eskul. Sekilas memang menarik, ya. Anak saya pun bilang begitu. Tapi trus dia ingat sama PR yang hampir setiap hari menumpuk gak kira-kira. Katanya, “Kapan ngerjain PR kalau seharian di sekolah?” hehehe

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)