Bijaksana Dalam Berhutang

Photo Source
Walaupun saya hidup dikelilingi dengan orang-orang yang berkecimpung di dunia perbankan atau keuangan, tapi tidak ada satupun yang mengajarkan saya bagaimana cara mengatur uang. Alhamdulillah saya secara otodidak dan membaca di sana sini, akhirnya bisa mengatur keuangan sendiri dengan sebaik-baiknya, tentunya dengan berbagai macam trial and error sampai menemukan cara yang sesuai dengan pribadi saya. 
Beruntungnya saya sejak kecil diberikan jatah yang cukup. Maksudnya, cukup untuk makan sekali di kantin aja. Hahahahaha. Kalo mau jalan-jalan atau nongkrong-nongkrong ya berarti mesti rela gak makan atau bawa bekal selama beberapa hari. Kalo diinget-inget kadang sedih ya, apalagi liat temen-temen kalo ngeluarin uang gak pake dipikir. Tapi justru pola mengatur keuangan tersebutlah yang membuat saya seperti ini sekarang. Walaupun saya sempat mengalami masa-masa transisi ketika sudah berpenghasilan sendiri dengan menghambur-hamburkan uang untuk benda-benda yang dulu orang lain punya, saya tidak. Tapi akhirnya sudah kembali ke jalan yang benar. Hehehehe…
Saya akan membeli sesuatu jika saya punya uang.

Itulah prinsip saya dalam mengeluarkan uang. Dan itulah yang saya sharing di kolom komentar postingan Mas Ryan tentang cicilan kartu kredit.
Pendek cerita akhirnya saya punya kartu kredit pertama saya di tahun lalu. Awalnya sangat tidak tertarik membuat kartu kredit karena merasa belum perlu. Yang saya takuti cuma satu, dikejar-kejar hutang! Tapi setelah dipelajari, berhutang dengan kartu kredit tidak selamanya jelek kok, asal kita bisa mengaturnya.
Berikut beberapa tips yang saya jalankan saat menggunakan Kartu Kredit:
  • Jangan bohong soal gaji saat mengajukan kartu kredit. Karena menurut saya, Bank sudah punya standar limit kartu kredit sesuai dengan standar gaji yang seharusnya. Jangan memaksakan diri untuk limit yang terlalu besar. Berabe kalo sampe ternyata kita gak sanggup bayar.
  • Ini memang akan sedikit membuang biaya, yaitu membuat rekening sesuai dengan fungsinya. Tapi menurut saya, lebih baik buang sedikit biaya admin daripada saya gak pernah bisa atur dana di satu rekening dan berakhir gak punya tabungan :). Kalau saya sendiri punya tiga rekening yang berbeda untuk, gajian, menabung, dan membayar kartu kredit. Rekening gajian untuk biaya sehari-hari tidak pernah saya isi full, pasti pas-pasan untuk menghindari saya kalap mengeluarkan uang. Rekening tabungan ini saya gunakan untuk menabung dana darurat. Ketika dana darurat sudah terpenuhi, biasanya saya langsung ubah menjadi investasi lain, misalnya logam mulia. Rekening kartu kredit berisikan uang yang akan saya bayarkan ketika tagihan datang.
  • Kalau orang sebagian mengatur tanggal tagihan sesuai dengan tanggal gajian, saya lebih memilih pasrah dengan tanggal tagihan tersebut. Yang saya lakukan adalah setiap kali gesek untuk keperluan sehari-hari, langsung saya tarik tunai nominal yang sama, lalu masukkan ke dalam rekening kartu kredit. Untuk tagihan cicilan, ketika gajian, langsung saya transfer juga ke rekening kartu kredit. Kenapa? Karena saya menghindari rasa kaget atau perasaan uang cuma lewat doang pas gajian. Ingat magic words di atas? “Saya akan membeli sesuatu jika saya punya uang.”
  • Saat akan mencicil barang dalam hitungan bulan, pastikan jumlah cicilan per bulan tidak melebihi 30% jumlah total cicilan utang
  • Jangan pernah membayar minimum payment apalagi menarik uang tunai dari kartu kredit. Karena biasanya bunganya lebih besar dari pembayaran kita sendiri. Ngapain bayar bunga buat bank, mending uangnya ditabung buat traveling, ya gak? 😛
  • Perhatikan term and condition promo-promo dari bank. Terkadang sangat tricky. Contohnya saya pernah mau makan di sebuah restaurant yang menawarkan diskon cukup besar dengan kartu kredit. Namun ternyata minimum paymentnya adalah Rp 200.000,- yang menurut saya terlalu besar untuk ukuran ngopi-ngopi cantik cuma berdua. 
  • Simpan semua struk pembelian dan cek saat tagihan datang. Hal ini untuk memantau pengeluaran kita dan juga jika (amit-amit) terjadi kesalahan kita masih punya bukti bayar yang sah.
Kira-kira itulah yang bisa saya share saat ini mengenai pengalaman saya tentang Kartu Kredit. Saya bukan ahli keuangan apalagi financial planner. Semua yang saya ceritakan sendiri benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi. Jika teman-teman merasa cocok, monggo diikuti. Jika tidak, that’s fine 🙂 Sharing is caring, isn’t it? 
 
Apakah teman-teman juga punya tips lainnya tentang Kartu Kredit yang bisa di-share? 🙂
 

12 thoughts on “Bijaksana Dalam Berhutang

  1. Dulu, suamiku pernah menyarankan agar menutup rek kartu kredit, aku punya visa dan master.. Tapi aku menolak lantaran kartu kredit bisa sgt berguna kalau kita bisa bijak dalam memanage pemakaiannya… Dalam pemikiranku bila suatu saat kepepet butuh dana tunai siapa sih yg mau bantu? Blm tentu orang yg kita minta bantuan itu mau membantu, yg ada malah dia menjadi terganggu… Lagipula, aku punya kartu kartu sejak awal tahun 2000…sudah jadi pelanggan sejak lama… Makanya, dari card center kadang2 aku ditelpon utk menambah limit-nya… Tapi aku blm mau nambah limit lantaran kartu kredit aku gunakan bukan utk berhutang ttp utk berjaga2 saja…

  2. Setuju sekali sama kata-kata, "kartu kredit bukan untuk berhutang, tapi untuk berjaga-jaga", Mak 🙂 Keputusan tidak menambah limit juga bagus tuh. Sesuai dengan kemampuan saja ya. Terima kasih sudah mau mampir dan sharing 🙂

  3. Ada beberapa yang antipati thp kartu kredit lho. Ya krn fungsinya utk berutang dan jadi riba.
    Kalo saya sih kartu kredit memang bukan nuat berutang. Tp utk berjaga2. salam kenal ya mak 🙂

  4. Akhirnya buat tulisan sendiri. Mantap.
    Kartu kredit bagus kok. Memang utk antisipasi keadaan mendesak sangat berasa.
    Thank you for sharing your story Lia.

    Btw soal term and condition itu yang paling jarang diperhatikan.

  5. prinsip gua kalo pake kartu kredit sih pokoknya harus dibayar lunas, jangan sampe nyicil dan kena bunganya yang mencekek leher. 🙂

    kartu kredit buat gua sih sekedar praktis aja jadi gak perlu bawa cash, dan buat dapet reward point nya.

  6. Ah, iya tuh soal reward poin aku lupa sebut! Sebenernya aku ngejar poinnya juga. Asal langsung bayar aman kok. Tapi memang belom pernah ngerasain pake poinnya. Nunggu banyak dulu hihihi 😀

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)