Berlibur di Teluk Kiluan, Lampung (Part 2)

Baca cerita perjalanan menuju Teluk Kiluan, Lampung yang pertama di sini.


Setelah asyik berfoto-foto di Pantai Klara, kami pun kembali melakukan perjalanan menuju Teluk Kiluan. Maka perjalanan penuh perjuangan itu kembali lagi dilakukan. Kami yang kembali ngantuk, kembali beradu kepala dengan teman sebelah. Ya, seperti yang saya ceritakan kemarin, jalanannya masih belum mulus sempurna. Tapi saya lihat ada beberapa jalan yang sudah dicor. Semoga saat kalian ke Teluk Kiluan sudah mulus ya jalanannya.

Entah sudah berapa jam perjalanan saya dibangunkan oleh suara Mbak Rien. Ternyata kami sudah sampai di gerbang Teluk Kiluan. Yeiy!

teluk-kiluan

Tidak lupa kami berfoto terlebih dahulu di depan gerbang lokasi yang akan kami singgahi semalam ini. Dari jauh sudah terlihat pemandangan laut yang seolah mengajak kami untuk cepat datang. Kami pun langsung kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Dulu, saya kira Kiluan yang dituju adalah pulau. Ternyata masih satu daratan dengan Pulau Sumatera. Walaupun begitu, dari tempat kami menitipkan mobil sampai ke penginapan harus dilalui dengan jukung (perahu kayu). Karena jaraknya lebih dekat, sekitar 10-15 menit perjalanan melalui air.

Dari sini kami sudah mulai mengganti pakaian. Karena kaki sampai betis akan ada kemungkinan basah saat menaiki jukung. Jukung bisa dinaiki 7-8 orang. Kami duduk satu persatu menghadap ke depan. Bunyi suara mesin jukung sedikit berisik saya saat memandangi pemandangan di depan. Tapi kalo gak berisik masa kita dayung sampe ujung? Ogah dong ah 😛

Di sekeliling saya terlihat pemandangan yang cantik. Ada air laut yang biru, juga pegunungan yang hijau. Air di Teluk Kiluan sungguh tenang. Mungkin karena berada di teluk, sehingga ombak besar rasanya tidak mungkin ada di sini. Tidak lama saya terpana dengan pemandangan di bawah laut. Saya bisa melihat terumbu karang dengan jernih.

Tanpa terasa kami sudah mendekat ke pinggiran pantai cottage. Kami pun langsung bergegas membawa seluruh barang menuju tempat penginapan. Ada suara ramai terdengar saat kami mendekat ke tempat penginapan. Ternyata ada rombongan ibu-ibu dari Bandar Lampung yang akan pulang. Kami pun bersapa dan mereka pun mengucapkan, “Selamat Datang”.

Aihh senangnya disambut dengan baik oleh penduduk lokal 🙂

LAGUNA GAYAU

Hari sudah menunjukkan waktu sore hari. Kami bersiap untuk pergi ke area wisata pertama di Teluk Kiluan yaitu, Laguna Gayau. Seperti namanya laguna ini merupakan sebuah kolam kecil yang tercipta akibat deburan ombak di laut.

teluk-kiluan-laguna-gayau

Butuh fisik yang cukup prima untuk menuju Laguna Gayau ini. Bagaimana tidak, kami harus menempuh perjalanan menanjak dan juga berbatu. Bagi saya yang sudah lama tidak melakukan trekking, sungguh suatu hal yang menantang.

teluk-kiluan-menuju-laguna-gayau

Jalanan menanjak curam tidak terlalu berarti bagi saya. Yah, paha dan betis memang pegal sih. Namun yang sungguh membuat hati ini deg-degan adalah ketika menaiki bebatuan yang bersebelahan dengan pantai. Saya pun menyesal hanya menggunakan sandal jepit, karena berulang kali saya terjatuh. Bahkan sangking takutnya, saya pun jalan merayap seperti spiderman hahahaha.

Perjalanan yang panjang nan mendebarkan tidak seberapa dengan pemandangan yang saya akhirnya lihat. Sebuah kolam kecil yang ternyata cukup dalam. Oke, saya sih gak berani ke dalam ya, hanya di area yang masih terjangkau tinggi badan saya.

laguna-gayau

Kami pun berenang layaknya dalam kolam renang. Sampai lupa kalau ternyata airnya asin hahahaha.

Di dalam laguna ini banyak kepiting dan juga ikan lho. Lucu deh mereka gak takut untuk dekatin kita.

Oh iya, perjalanan kita ke Laguna Gayau karya Mbak Rien masuk ke Net TV Citizen Journalism lho. Silahkan tonton videonya di sini:

Hari pun mulai gelap, kami diajak untuk segera kembali ke penginapan.

MALAM YANG SUNYI DI TELUK KILUAN

Setelah beberes dan makan malam (yang lezat itu) kami pun berkumpul di dalam kamar. Mbak Rien, Mas Yopie, dan beberapa orang lainnya masih di luar mengobrol.

Entah kenapa malam yang sunyi itu benar-benar membuat saya malas bergerak. Mungkin juga efek capek setelah berenang. Kami pun memanfaatkan listrik yang hanya ada saat malam hari saja untuk mengisi batere gadget kami (di Teluk Kiluan menggunakan genset).

Tidak ada sinyal sama sekali semenjak kami menginjak Teluk Kiluan. Akhirnya kami mengobrol sepanjang malam sampai tertidur.

Ehm, tidak sepanjang malam sih. Kami bahkan tertidur dari pukul 9 malam. Sesuatu hal yang tidak mungkin kan dilakukan saat di Jakarta? Saya pun berulang kali terbangun di malam hari (ya, saya suka gampang homesick :P), dan kaget karena waktu terasa berjalan begitu lama di Kiluan.

Atau mungkin sebenarnya karena saya mati gaya ya tidak ada gadget? Hehehehe. Padahal kesempatan yang tenang ini bisa dipakai untuk berpikir, merefleksi diri, dan berbagai hal positif lainnya. Ehhh, saya malah tidur 😛

MELIHAT LUMBA-LUMBA DI TELUK KILUAN

Akhirnya pagi datang. Sudah dari subuh kami bangun dan mengobrol. Tidak lupa memakan roti untuk mengisi perut. Saya pun minum antimo supaya tidak mabuk laut.

Pukul 9 pagi kami bersiap menggunakan pelampung di tubuh. Kami menaiki jukung kembali. Kali ini jukung diisi 4 orang saja. Saya sudah membawa semua peralatan termasuk kamera untuk menangkap pemandangan lumba-lumba di laut lepas.

Pagi itu cukup dingin. Saya juga menggunakan baju berenang kemarin yang belum kering. Untunglah duduk dekat dengan mesin jukung. Rada anget sedikit. Hihihi.

Perjalanan ditempuh cukup lama. Mungkin 20-30 menit. Ada rasa takut saat menaiki jukung. Bagaimana tidak, kami akan pergi ke laut lepas. Air pun sudah mulai berubah warnanya menjadi biru gelap. Angin semakin kencang dan pemandangan di depan semakin luas tidak terbatas.

Satu-satunya yang membuat sedikit lega adalah ada sekitar 7-10 jukung lainnya yang juga ingin bertemu dengan lumba-lumba di laut. Setidaknya kalau terjadi apa-apa (amit-amittt), ada yang melihat dan membantu. Tapi bisa dibilang jukung ini cukup tahan banting lho. Tidak mudah oleng, sehingga tidak terlalu menakutkan.

Ketika sampai di laut lepas, mesin jukung mulai dimatikan. Hanya ada suara deburan ombak yang terdengar. Saya memegang tongkat kamera sambil memasang mata. Tidak lupa berdoa, “Tuhan pertemukan saya dengan lumba-lumba”. Hehehehe lebay ya, tapi memang akan lebih puas ke Kiluan kalau bisa melihat lumba-lumba di habitat aslinya.

Sambil menunggu saya mengobrol dengan mas yang membawa jukung. Ternyata beberapa hari yang lalu ada banyak anak lumba-lumba yang terlihat. Anak lumba-lumba ini berani mendekat ke jukung. Lalu kenapa harus pagi-pagi? Katanya itu adalah jamnya mereka mencari makan.

Tidak lama saya diberi tahu kalau sudah terlihat seekor lumba-lumba di dekat kami. Setiap lumba-lumba terlihat, seketika itulah semua jukung berlomba-lomba mendekat. Kasian sih, apakah mereka akan takut mendengar suara mesin?

Beberapa kali saya melihat lumba-lumba dari jauh, sampai akhirnya saya terkaget-kaget sendiri melihat lumba-lumba besar mendekat di jukung saya. Saya tidak berhenti berteriak kegirangan. Mungkin pekikan saya sudah hampir sama seperti suara lumba-lumba.

Setelah beberapa lama di lautan, kami sadar sepertinya harus kembali ke daratan lagi. Lumba-lumba sudah jarang frekuensinya menampakkan diri. Kami pun balik dengan berat hati.

SNORKELING DI TELUK KILUAN

Rasanya tidak sabar untuk kembali berenang di dalam air. Saya sarapan dengan lahap, setelah tertidur pulas efek dari antimo yang baru bekerja sesampainya di penginapan.

Tempat snorkeling kali ini tidak jauh dari lokasi kami menginap. Bahkan kami tidak perlu menggunakan jukung, melainkan berjalan menyisir pantai.

Selain menggunakan kaca mata snorkeling, kali ini saya akhirnya menggunakan fin (sepatu katak). Setelah mengalami luka-luka pada kaki saat di Pulau Pari, saya putuskan untuk memakai fin walaupun sebenarnya agak kurang nyaman.

area-snorkeling-teluk-kiluan
Photo by Mas Yopie

Menggunakan fin juga ada perasaan khawatir akan merusak terumbu karang, maka itu kami harus ekstra hati-hati jangan sampai mengenai salah satu rumah ikan di laut ini.

teluk-kiluan-snorkeling
Photo by Mas Yopie

Lokasi snorkeling di Teluk Kiluan tidak terlalu dalam. Air yang jernih memudahkan kita menemukan terumbu karang dengan jelas. Tidak banyak ikan yang dapat saya lihat jelas, karena memang saya tidak berani melepas pelampung dan menyelam ke dalam. Tapi melihat foto-foto yang diambil Mas Yopie ternyata ada banyak ikan lho di bawah.

teluk-kiluan-terumbu-karang-ikan
Photo by Mas Yopie
teluk-kiluan-terumbu-karang
Photo by Mas Yopie

Sangking asyiknya kita sudah sampai ke tengah-tengah teluk lho berenang. Kami diperingatkan untuk tidak jauh-jauh.

BERPOSE DI DEPAN PENGINAPAN

Jam sudah menunjukkan pukul 11. Dan tidak satupun dari kami belum mandi. Padahal kita sudah harus pulang jam 12.

Tapi siapa sih yang gak nolak kalau disuruh foto dulu sebelum pulang? Pulang jam 4 sore juga dijabanin kali ye (gak gitu juga kaleeee…). Sehabis mandi kita semua langsung antri untuk difoto Mas Yopie satu per satu.

pesona-teluk-kiluan

pantai-teluk-kiluan
Photo by Mas Yopie
photo-session
Photo by Mas Yopie
jukung-teluk-kiluan
Photo by Mas Yopie

Gimana? Kece kan??

Setelah akhirnya sudah benar-benar siang, akhirnya kami bersiap-siap untuk kembali ke Bandar Lampung. Rasanya sedih sekali meninggalkan tempat yang sudah menjadi tempat saya melepas lelah (hati dan pikiran… ceilehh) selama dua hari ini.

Saya baru kepikiran juga, kalau perjalanan ke Lampung kemarin adalah perjalanan pertama saya menginjak Pulau Sumatera sejak terakhir pulang kampung ke Sumatera Utara saat masih kelas 4 SD. Selama ini jalan-jalannya hanya sekitar Jakarta saja.

Ternyata ada destinasi liburan yang tidak jauh dari Jakarta tanpa perlu harus cuti kerja seperti ke Teluk Kiluan ini ya. Saya sarankan teman-teman yang masih muda dan sanggup perjalanan jauh, segeralah pergi ke Teluk Kiluan. Apa yang akan kalian lihat sebanding dengan pengorbanan yang kita jalankan. Ihiiiy!

pesona-teluk-kiluan-lampung
Photo by Mas Yopie

Terus, abis ini liburan kemana lagi ya?

39 thoughts on “Berlibur di Teluk Kiluan, Lampung (Part 2)

  1. Melihat lumba-lumba muncul itu rasanya pingin teriak kenceng saking senangnya. Walaupun munculnya sekejab. Takjub bukan main. Makanya berat hati waktu harus balik ke pantai lagi ya. Rasanya sampai sore pun mau terus terapung-apung di laut demi melihat lumba-lumba. Paling gosong jadinya haha

    Walau terumbu karangnya baru tumbuh, tapi cakep ya. Ikannya ternyata banyak juga. Senangnya kemarin kita berada di tempat dalam, jadi nggak ada injek2 karang. Mbak Dwi saja yang katanya belum pernah snorkling, berani diajak ke tempat dalam. Pokoknya senang lihat semua pada hepi…

    Kapan-kapan kita ke Kiluan lagi, nyamperi Gigi Hiu pake ojek motor yaaa :))

    1. Kece deh wanita-wanita kemarin. Si Mike juga gak bisa berenang, Mbak. Tapi pada berani ya snorkeling. Kerennn 😀

      Mau lagiiii. Butuh piknik lagiiii. 😀

  2. wa, ini pantai yang paling ngehits di Lampung, jadi pengen meski saya belum tahu kapan bisa sampai ke sana 🙂

  3. taun 2011 dulu pernah jalan2 sampe ke Lampung, masih sepiiiii ya pantainya. Enak belum banyak photobombing hihihi, eh ternyata alam bawah laut di teluk Kiluan cantik jg yak, gk cuman lumba-lumba aja ternyata spotnya 🙂

  4. Dulu 2006 an kalo ngak salah peetama kali ke kiluan dan langsung jatuh cinta dengan ketenangan + sepi nya
    Tp tidak dengan oerjalanan nya yg jaih dan rusak amit amit

  5. Begini rupanya wujud teluk yang cuma bisa dilihat dari dalam bus sewaktu melewati Lampung. Bagus banget ya, jadi pengen berkunjung ke sana. Dulu tahunya wisata bagus di Lampung cuma Pantai Marina aja. 🙂

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)