Bahagia Ala Sosial Media

Udah beberapa minggu ini saya meminimalisir kegiatan bersosialisasi di media sosial Path. Mungkin udah bosen kali ya. Lagian juga kok lama-lama isinya itu-itu aja. Termasuk saya juga sih, postingnya itu-itu aja. Hahahaha.
Satu lagi yang kadang sempat bikin  uring-uringan karena cuma pantengin timeline Path. Pas liat si A pasang foto lagi jalan-jalan di luar negeri langsung terlintas pemikiran, “kok si A enak banget ya bisa jalan-jalan terus”.
Pas si B lagi gendong bayinya langsung mikir, “kapan ya punya anak.. Eh, nikah aja belom :P”.
Belum lagi kalo liat si C yang “kelihatannya” sukses sama karir dan jabatannya. Langsung bikin mood berantakan aja.
Memang sih hidup orang lain itu gak bisa jadi patokan kebahagiaan kita. Tapi kadang, saya (yang sedikit perfeksionis ini) suka keluar jiwa kompetitifnya. Masa sih gak bisa lebih baik dari dia? Lebih keren dari dia? Lebih mapan dari dia? Aduuuh… Gak selesai-selesai ngebandinginnya.
Padahal kan apa yang kita liat belum tentu juga representasi kehidupan orang itu yang sebenarnya. Bisa saja dia memang pengen terlihat “wah” dengan makan di restoran yang hits, tapi ternyata kebutuhan wajib yang lainnya malah gak terpenuhi. Bisa juga orang yang kelihatannya karirnya oke, tapi waktu untuk sosialisasinya malah berkurang. Wajar toh jadi bersosialisasinya di media sosial?
Jadi apa yang kita lihat di sosial media belum tentu jadi kadar kebahagiaan diri kita sendiri.
Well, sometimes what you see is not always represent their complete daily life. Just be thankful of what you have now 🙂

9 thoughts on “Bahagia Ala Sosial Media

  1. Karena sesungguh sosial media adalah tempat pencitraan.. Mueheheh.. 😛

    Kalok aku uda punya hp baru, kayaknya ngga bakalan nginstall Path deh. Males kalok banyak-banyak sharing. *sok butuh privasi*

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)