4 Langkah Tepat Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Masih ingat dengan tulisan saya tentang langkah-langkah dalam mengelola keuangan keluarga beberapa waktu yang lalu? Kalau belum, silahkan mampir dulu dan luangkan waktu sejenak untuk dibaca. Saya janji gak bakalan ngebosenin karena saya buatkan juga tabel khusus biar gak pusing matanya lihat tulisan semua. Hehehe.

Di tulisan saya sebelumnya, saya membahas tentang tips pertama untuk mengelola keuangan keluarga yaitu dimulai dengan memeriksakan kondisi kesehatan keuangan keluarga.

Sekarang saya tanya, sudah dicek belum keuangan keluarganya? Sudah dicatat belum semua pengeluaran selama beberapa minggu ke belakang? Sudah mulai cicil dana darurat belum?

Kalau tanya saya, saya sih sudah. Saya benar-benar meluangkan satu waktu untuk mengecek harta dan juga kewajiban saya. Alhamdulillah masih aman.

Setelah tau aman, saya mau tau juga dong biar anggaran keuangan keluarga tetap berjalan dengan lancar. Belum lagi saya masih mau menikmati hidup dari hasil yang didapat sekarang. Masa nabung sama makan toge mulu πŸ˜›

Hari ini saya akan membagi lagi ilmu pengetahuan tentang keuangan keluarga yang baru aja saya dapat di Hari Kamis, 24 Agustus 2017 kemarin. Simak terus yaa! πŸ™‚

LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENYUSUN ANGGARAN KEUANGAN KELUARGA

Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga Visa

Acara yang bertempat di Restaurant The Hook di daerah Jakarta Selatan ini masih merupakan hasil kerja sama Visa dan juga OJK melalui Ibu Berbagi Bijak.

Di acara ini juga masih diisi oleh Financial Educator Indonesia, Mbak Prita Ghozie. Dan juga masih dibuka oleh Ibu Adhe Hapsari, Director of Corporate Communications, Visa for Indonesia, Vietnam, Cambodia, and Laos.

Saya ingatkan juga untuk jangan lupa follow akun instagram Ibu Berbagi Bijak dan membaca www.practicalmoneyskills.co.id untuk informasi terkait dengan event dan tips keuangan keluarga.

Sudah siap masuk ke materi cara menyusun anggaran keuangan keluarga? Yuk kita mulai!

LANGKAH KE-1: TENTUKAN PRIORITAS

Di awal acara, Mbak Prita mengajak para peserta untuk menyusun 3 mimpi yang harus dituliskan masing-masing oleh suami dan juga istri. Lalu cocokkan hasil keduanya. Bagaimana jawabannya? Apakah ada yang sama? Atau malah beda sama sekali?

Di sinilah kekompakkan pasangan harus dimiliki. Coba ajak pasangan untuk menentukan mana mimpi yang akan sama-sama dicapai. Mimpi ini bisa berupa kebutuhan ataupun keinginan ya. Tapi bijaksananya adalah selalu mendahulukan kebutuhan dibandingkan dengan kemauan. Kecuali angka nol di tabungan kalian ada sampai 10 digit, itu sih suka-suka gue dooong πŸ˜›

Kebutuhan pun dibagi menjadi dua, kebutuhan jangka pendek dan kebutuhan jangka panjang. Kebutuhan jangka pendek itu adalah kebutuhan dalam jangka waktu kurang dari 12 bulan, seperti belanja bulanan, uang sekolah, dan lainnya.

Sedangkan kebutuhan jangka panjang adalah kebutuhan yang dibutuhkan dalam jangka di atas 12 bulan, seperti dana pensiun, dana untuk naik haji, dan lainnya.

Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Kalau sudah menentukan kebutuhannya semua, maka sudah kebayang dong apa saja poin yang harus dibayarkan atau dikeluarkan setiap bulannya setelah terima gaji?

Masih bingung? Nih saya kasih tau urutan prioritas pengeluaran setiap kali saat menerima gaji:

  1. Zakat, infak, sedekah.
  2. Bayar pinjaman, cicilan, hutang kartu kredit, dsb.
  3. Tabungan dan investasi masa depan.
  4. Dana darurat.
  5. Biaya hidup.
  6. Biaya anak dan pendidikan.
  7. Gaya hidup.

Ini bentuknya urutan ya, jadi paling atas itu paling wajib. Semakin ke bawah semakin tidak wajib. Tapi jika memang semua poin di atas harus dikeluarkan, tetap bisa diakali dengan mengatur porsi persentase nilai uang yang dikeluarkan.

Gaya hidup paling akhir? Yaiyalahhh. Kan gak mungkin kita hidup cuma buat gaya doang. Lagian ada kalimat yang diucapkan oleh Mbak Prita kemarin,Β “Gaji tidak berhubungan langsung dengan kaya, tapi gaya hidup!”. Setuju buibu?

LANGKAH KE-2: MENGELOLA ARUS KAS

Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Di langkah kedua dari menyusun anggaran keuangan keluarga ini sebenarnya masih terkait dengan urutan prioritas pengeluaran pada langkah pertama. Di sini kita diajak untuk mempertimbangkan baik-baik pengeluaran-pengeluaran yang memang seharusnya dikeluarkan dan kenapa alasannya harus dikeluarkan.

Pengeluaran pertama adalah Zakat. Saya percaya sekali bahwa di setiap rezeki kita itu ada hak untuk orang-orang yang membutuhkan. Di Islam sendiri memiliki ketentuan zakat sebesar 2.5%. Malah Mbak Prita menyarankan untuk menyisihkan 5% dari gaji kita.

Bingung bagaimana cara membayar zakat? Saya pernah dengar kalau bisa diberikan langsung kepada yang membutuhkan. Namun saya sendiri sih maunya yang praktis. Saya menggunakan jasa Dompet Dhuafa untuk membayarkan zakat rutin. Caranya sudah pernah saya tulis di blog juga lho.

Pengeluaran dana darurat juga merupakan hal yang penting. Kita tidak pernah tau apapun yang akan terjadi di masa depan. Seperti pribahasa sedia payung sebelum hujan, dana darurat juga akan memberikan proteksi awal jika kita membutuhkan dana dalam waktu singkat.

Dana darurat itu kan seharusnya 2x-12x dari pengeluaran rutin bulanan. Karena jumlahnya sangat besar, pada akhirnya saya berkomitmen untuk menyicil dana darurat setiap bulannya sampai bisa mencapai dana yang dibutuhkan. Dana darurat ini baiknya ditaruh ke dalam instrumen keuangan yang liquid ya, seperti tabungan.

Kita juga harus bisa mengelola kebutuhan rutin yang biasa kita konsumsi. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya merasa boros sekali ketika saya dan suami harus membeli makan siang dengan jajan. Dalam sehari bisa habis Rp 50.000,- sendiri.

Akhirnya dalam dua minggu belakangan saya kembali ke pasar untuk belanja bahan masakan untuk bekal suami. Lumayan hemat lho, sekali belanja habis Rp 250.000,- untuk makan 3x selama 7 hari. Makanan yang dibuat bisa banyak, dan juga pastinya lebih sehat karena dimasak sendiri.

Perlu diingat, boleh saja belanja kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan kartu kredit. Namun tidak disarankan membayarnya dengan menyicil. Karena barangnya sudah habis terpakai, tapi kita masih mencicil untuk membayarnya. Sangat tidak efektif.

Ingatkan diri bahwa selalu menabung terlebih dahulu baru beli kemudian. Hal ini terjadi karena kita kebiasaan suka lapar mata. Lihat ada barang bagus, uangnya ada eh langsung beli. Padahal belum tentu kita membutuhkan barang tersebut.

Sekarang saya mau mulai belajar untuk mencatat apa saja produk (khususnya kosmetik!) yang ingin saya beli. Saya taro catatannya di tempat yang mudah dibaca, saya tulis harganya, dan saya tulis berapa yang harus saya sisihkan per hari atau per bulannya.

Ketika uangnya terkumpul baru deh langsung beli. Dengan seperti ini juga melatih saya sabar dan mengetahui mana yang kebutuhan maupun keinginan.

Investasi memang memiliki resiko, maka harus pintar-pintar mengaturnya. Setiap investasi memang ada resiko tinggi dan rendah. Biaya yang dikeluarkan pun juga berbeda-beda. Untuk hal ini nantinya akan dibuatkan sesi khusus karena memang butuh konsentrasi tinggi nih dipelajarinya.

Kebetulan saya juga sudah kepengen mulai berinvestasi jangka panjang. Biar nanti tinggal menikmati hasilnya aja. Hehehehe.

LANGKAH KE-3: MERAIH MIMPI

Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Prioritas sudah ditentukan, alokasi dananya sudah diatur persentasenya, sekarang tinggal jalaninnya aja nih untuk bisa segera meraih mimpi.

Buatlah catatan, kalau perlu gambar barang yang diinginkan. Cetak dan pajang deh tuh di area yang bisa terlihat.

Tulis juga berapa biaya yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan berapa lama barang tersebut harus sudah bisa kebeli.

Dengan seperti ini kita pasti akan lebih termotivasi untuk segera mewujudkan mimpi. Bukan cuma angan-angan yang nantinya gak pasti terjadi atau tidak.

Susah? Enggaklah πŸ™‚

LANGKAH KE-4: MENENTUKAN ANGGARAN BULANAN DAN MUSIMAN

Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga Prita Ghozie

Langkah keempat ini mirip seperti tabel arus kas rutin dan tidak rutin di financial check up kemarin.

Intinya adalah kita harus bisa memilah mana anggaran keuangan keluarga bulanan dan musiman. Pendapatan bulanan itu kita dapat dari gaji, maka hanya boleh digunakan untuk pengeluaran bulanan. Seperti belanja bulanan, bayar listrik, bayar uang sekolah, dan lainnya.

Sedangkan pendapatan musiman itu kita dapat secara tahunan atau pada periode tertentu saja, seperti THR dan bonus. Pendapatan musiman ini dipakai untuk pengeluaran musiman saja. Seperti ngasih THR ke asisten rumah tangga pas lebaran kemarin, atau beli hewan kurban saat Idul Adha, termasuk bayar-bayar pajak juga dari pendapatan di sini ya.

Nah kalau ada sisa dari pendapatan musiman ini, baru deh boleh dipakai ke hal-hal lain, seperti dana liburan atau belanja pribadi.

TEKNIK MENGATUR PENGELUARAN

Udah hapal di luar kepala ya informasiΒ anggaran keuangan keluarga di atas? Gampang sih kelihatannya, tapi belum tentu bisa dilakukan secara mudah.

Makanya Mbak Prita mengajarkan kita untuk selalu mempunyai paling tidak 3 rekening yang fungsinya berbeda-beda, yaitu untuk biaya bulanan, dana darurat, dan tabungan atau investasi.

Malah jadi boros karena kepotong biaya administrasi bank? Engga sebandinglah sama kacaunya keuangan di rekening yang semua keperluannya jadi satu.

Check list bulanan ini mungkin bisa membantu kalian saat baru saja gajian:

  1. Buat rencana pengeluaran
  2. Terima gaji
  3. Membagi uang sesuai pos rekening
  4. Bayar cicilan hutang
  5. Bayar tagihan bulanan
  6. Transfer otomatis ke rekening dana darurat
  7. Transfer otomatis ke rekening investasi
  8. Ambil uang tunai per minggu di ATM
  9. Mengisi uang elektronik
  10. Hiburan-hiburan

Bisa kan? Jangan mengeluh lagi ya gaji kita kurang, justru kita harus cari cara supaya bisa mengaturnya agar cukup.


Cara Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

Seperti biasa, ilmu yang didapat dari acara Ibu Berbagi Bijak ini banyak banget. Tapi penting banget, apalagi menyusun anggaran keuangan keluarga itu penting banget.

Kita sebagai wanita sekaligus menteri keuangan dalam keluarga harus memastikan bahwa uang yang didapat dari hasil kerja suami dan juga kita sendiri dapat teralokasi dengan baik. Jangan sampai demi memuaskan gaya hidup sekarang, di masa depan kita gak punya apa-apa.

Gak sabar banget untuk bisa ikutan acara ketiga dari Ibu Berbagi Bijak soalnya mau membahas investasi. Pengen banget bisa memanfaatkan uang yang idle untuk bisa bermanfaat di masa depan.

Tunggu kabar selanjutnya ya! πŸ™‚

34 thoughts on “4 Langkah Tepat Menyusun Anggaran Keuangan Keluarga

  1. Ngomong-ngomong soal bekal, aku sejak menikah hampir setiap hari suami bawa bekal dan dulu pas masih kerja aku pun bawa bekal terus. Alhamdulillah memang berasa banget iritnya dari pada jajan karena selain boros juga jajanan di Jakarta banyak yang nggak terjamin kebersihannya. Lumayan jadi bisa irit dan sehat.

    1. Wahh sudah dibuktikan nih. Iya, Mbak. Kalau bisa lebih sehat dan irit kan bagus. Aku juga sekalian belajar masak hihihihi.

  2. Yang beginian saya serahkan sama istri aja nih. Kalau saya yang atur sering khilaf soalnya.
    Eh, oiya saya belum punya istri ding. Lupa πŸ˜€

  3. bener banget Liaaa.. kita harus bisa atur2 keuangan. apalagi nanti klo dah pny anak. jgn smp tetiba uang belanja jd melar krn anak minta beli mainan. <— pengalaman akuuuhh πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

  4. setuju banget sama soal prioritas langkah awal kalo udah terima gaji..
    gak ikut event ini tapi bisa dpaat info nya dari blog mbak Lia, makasiiihhh πŸ™‚
    salam kenal πŸ™‚

  5. Iya aku lagi keteteran ngatur keuangan, sudah nyusun prioritas, sudah mendahulukan nabung biar step by step pengeluaran gak berlebihan tapi ya itu mencatat kas keungan keluarga itu yang kurang bagus akunya, jadi bingung ini kudu nyusun lagi biar sesuai tau cash flownya… hadeh

Selesai baca? Yuk silahkan berkomentar dengan sopan di kolom ini. Mohon maaf link hidup akan saya moderasi. Terima kasih :)